Minggu, 21 April 2013

Memotret Satwa Juga Ada Etikanya

Beberapa kali berkunjung ke pedalaman bersama rombongan pendatang, kadang membuat kami mengelus dada. Sebabnya, saat melihat fauna, manusia terkadang kelewat antusias. Lantas, tanpa ingat kalau satwa juga punya kepekaan, jeprat-jepret si satwa.
Wajar jika kemudian satwa yang tadinya anteng di alamnya, merasa terganggu dan kabur. Menurut Michael “Nick” Nichols, staf fotografer National Geographic, jika ingin memotret satwa maka fotolah satwa dalam bentuk, perilaku, dan lingkungan aslinya. Tanpa mengganggu mereka —seberapapun besarnya peralatan, teknologi, dan sumber daya yang dibutuhkan untuk melakukannya. 

Photo By : Risman Sawaludin
Selain Nichols, National Geographic punya fotografer alam liar ternama macam Tim Laman yang tenar berkat foto lengkap spesies cenderawasihnya di Papua; Joel Sartore dengan foto teranyarnya mengenai koala. Kesemuanya punya satu kesamaan: etika dalam menangkap imaji satwa.
Reynold Sumayku, Photo Editor National Geographic Indonesia, menekankan bahwa pemotretan satwa di National Geographic berbeda karena didasarkan atas perilaku si satwa. Ingat, bukan potret! Karena potret mirip dengan menangkap imaji manusia .
“Kalau behavior, arahnya lebih kepada siklus hidup si satwa. Saat dia masih kecil bagaimana, hubungannya dengan si induk bagaimana, sosialisasi mereka lha,” kata Reynold.
Perilaku alami satwa akan muncul saat lingkungannya tidak terusik, lagi-lagi soal etika. Reynold berbagi contohnya ketika memotret elang jawa di Cibulao, Puncak, Jabar. Saat itu Reynold berada di platform pohon, tidak jauh dari sarang si elang yang ditutup dengan kamuflase agar si elang tidak terganggu.

 
   
Photo By : Risman Sawaludin

Selain itu, untuk menjadi pemotret alam liar, bekali diri dengan riset. Untuk National Geographic, fotografernya biasa bekerja sama dengan peneliti.
“Bayangkan jika kita ngga ada background apa-apa, masuk hutan cuma untuk motret satwa tanpa tahu perilakunya gimana,” kata Reynold.
Tantangan utama dalam pemotretan macam ini adalah waktu. Sebab, satwa-satwa ini tidak tahu dan tidak akan mengerti jadwal yang dimiliki manusia pemotretnya. Contohnya, kata Reynold, saat memotret owa di Garut.
Ia hanya punya waktu lima hari, tapi si owa baru muncul di hari ketiga atau keempat. Sisanya hanya suara dan saat dihampiri menghilang. Oiya, satu lagi, lengkapi dengan peralatan memadai. “Peralatan memang bukan yang utama tapi sangat membantu.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar